Penangkapan Misterius 8 Warga Mirigambar, Dugaan Judi Togel, Warung Kopi Perangkat Desa, dan Bayang-Bayang Oknum Aparat

Harianpagi Tulungagung,- Misteri menyelimuti peristiwa penangkapan delapan warga Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Kamis malam (7/8/2025). Sekitar pukul 20.30 WIB, tiga mobil datang dan langsung membawa delapan orang, salah satunya Mul, perangkat desa yang dikenal punya warung kopi di lingkungannya.

Tujuh warga lain yang ikut dibawa adalah LH, Sut, BB, BG, Jok, Jum, dan seorang perempuan berinisial Kar.

Bacaan Lainnya

Menurut keterangan warga, orang-orang yang datang berpenampilan seperti aparat, berbicara tegas, bertindak cepat, dan memaksa delapan warga masuk ke dalam mobil. Namun, tidak ada tanda pengenal resmi, dan hingga kini belum diketahui siapa pihak yang melakukan penangkapan.

“Datang masuk warung, suruh delapan orang masuk mobil dengan nada keras, lalu pergi entah ke mana. Penampilannya ya seperti aparat,” tutur MW (46), warga setempat.

Hilangnya delapan orang warga tanpa informasi resmi ini menimbulkan keresahan dan tanda tanya besar di kalangan masyarakat.

Nama Mul sudah lama jadi buah bibir warga. Rumah sekaligus warung kopinya disebut-sebut menjadi arena perjudian kartu dan transaksi togel.

“Semua warga tahu kalau warung itu buat judi. Tapi karena dia perangkat desa, banyak yang tutup mata,” ujar SM, tetangga Mul.

SM juga mengungkap keluhan lain: Mul kerap meminta uang dalam berbagai urusan administrasi desa.

Kepala Desa Mirigambar, H. Nasrudin, membenarkan ada perangkatnya yang dibawa oleh sekelompok orang. Namun, ia menegaskan tidak ada pemberitahuan resmi.

“Benar ada penangkapan di warung kopi itu, tapi belum jelas kasusnya apa,” kata Nasrudin.

Ia juga mengklarifikasi status Mul yang kini hanya staf, bukan lagi Bayan. Terkait isu korupsi, Nasrudin menampiknya. “Seingat saya bukan korupsi. Kalau ada main kartu memang iya, tapi apakah itu judi atau bukan saya tidak tahu,” ujarnya.

Dari penelusuran di lapangan, muncul dugaan lebih serius, aparat mengetahui adanya praktik judi di warung kopi itu, tetapi membiarkannya bertahun-tahun. Barulah saat ada “masalah” tertentu, tiba-tiba dilakukan penangkapan misterius tanpa prosedur terbuka.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa warung yang terang-terangan jadi lokasi judi tidak pernah ditutup dan apakah ada setoran rutin yang membuat praktik itu dibiarkan.

Jika benar aparat resmi yang membawa, mengapa penangkapan dilakukan tanpa surat resmi dan informasi jelas kepada pihak desa maupun keluarga.

Kasus Mirigambar ini tidak bisa dibiarkan mengambang. Polres Tulungagung maupun Polda Jatim wajib segera memberikan klarifikasi resmi, siapa yang membawa delapan warga tersebut, apa status hukum mereka, dan mengapa penangkapan dilakukan tanpa prosedur yang transparan.

Tanpa kejelasan, masyarakat hanya akan melihat bahwa hukum dipermainkan. Dugaan praktik judi yang melibatkan perangkat desa dan bayang-bayang keterlibatan oknum aparat harus diungkap terang benderang.

Warga berhak tahu, apakah hukum benar-benar ditegakkan, atau justru ada permainan di balik layar. (Candra)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *